Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2020

Program Audit: Dept. Sumber Daya Manusia | Human Resource Department

Tugas mata kuliah Internal Audit waktu di POLBAN.

No
Prosedur Audit
Alasan
Bukti Audit
1.
Prosedur Pemeriksaan Umum
a.
Mendapatkan dan menelaah peraturan perusahaan
Untuk mengetahui peraturan-peraturan bagi SDM di lingkungan perusahaan
Dokumen peraturan perusahaan
b.
Mempelajari laporan pemeriksaan sebelumnya
Untuk mengetahui risiko dan rekomendasi sebelumnya
Laporan pemeriksaan sebelumnya
c.
Melakukan pengujian tentang sistem pengendalian manajemen
Untuk mengetahui risiko dan hal yang harus diperbaiki dalam sistem pengendalian manajemen
Hasil pengujian sistem pengendalian manajemen perusahaan
2.
Prosedur pemeriksaan khusus
a.
Memverifikasi standard kinerja (performance standard) perusahaan
Untuk mengetahui standar dan kriteria proses kinerja perusahaan
Dokumentasi standar kinerja
b.
Mengkaji prosedur untuk penilaian potensial individual
Untuk mengetahui keandalan prosedur penilaian potensial dalam menilai potensial individual
Dokumentasi prosedur penilaian potensial individual

Hasil penilaian potensial individual
3.
Tentang Perekrutan
a.
Mengobservasi proses pencarian  sumber daya untuk calon karyawan
Untuk mengetahui proses pencarian sumber daya calon karyawan
Dokumentasi sumber daya calon karyawan
b.
Mengobservasi proses pemilihan dan seleksi calon karyawan
Untuk meningkatkan efisiensi pemilihan dan seleksi calon karyawan
Dokumen terkait

Hasil wawancara dengan karyawan
c.
Mengkaji pemenuhan secara aspek hukum tentang perekrutan
Untuk memastikan proses perekrutan sesuai dengan hukum yang berlaku
Dokumentasi hukum yang terkait

Hasil observasi proses perekrutan
d.
Mengobservasi konsistensi prosedur perekrutan
Untuk memastikan keandalan prosedur perekrutan

Dokumentasi prosedur perekrutan di perusahaan selama beberapa periode
4.
Tentang Pelatihan dan Pengembangan
a.
Mengobservasi proses pelatihan karyawan
Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pelatihan karyawan
Dokumentasi proses pelatihan karyawan

Hasil wawancara terhadap karyawan

Hasil penilaian kinerja Karyawan
b.
Mengobservasi proses pengelolaan pelatihan
Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pelatihan karyawan
Hasil wawancara terhadap manajemen pelatihan

Dokumen terkait


Selasa, 05 Mei 2020

ASRAMA UNIVERSITI KEBANGSAAN MALAYSIA: KOLEJ IBU ZAIN



Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) memiliki beberapa kolej (read: asrama) di dalam kampus, totalnya ada 12. Setiap kolej ada di bawah management yang berbeda, tetapi untuk mahasiswa baru akan dibantu oleh kampus mengenai pendaftarannya, kecuali Kolej Ibu Zain. Jadi enggak ribet asal mau membaca setiap informasi yang diberikan, dan mesti sabar menunggu balasan email atau konfirmasi apalagi kalau daftar di waktu liburan.

Sabtu, 02 November 2019

Rebahan di Hari setelah Drama Tingkat Akhir Tamat


Hari ulang tahun bukan waktu untuk merayakan, tetapi waktu untuk rebahan.

Awal-awal masa SMA, saya membuat karya kecil, graffiti amatir, buat temen SMP yang ulang tahun bulan September kalau tidak salah. Naasnya, hadiah itu disalahpahami.

Minggu, 30 Desember 2018

Pengabdi An



Semua kesulitan yang kita lalui
Segala kekurangan yang kita rasakan
Tak akan sia-sia dan terlupakan

Ceritanya habis ikut program pengabdian yang lumayan singkat waktunya, hanya kurang lebih satu minggu. Mungkin karena bukan anggota komunitas pengabdian atau sejenisnya, pengalaman yang sangat sedikit ini tetap terasa berkesan. Hidup di tempat yang asing bukan hal yang mudah bukan? Apalagi dengan status “sementara”, semua serba seadanya.

Hadiah, teman, dan kasih sayang Tuhan



Ia terbangun dengan air mata.
Ah, pasti mimpi buruk lagi
Mimpi telah usai saat ia tak lagi terpejam, tapi perasaan sakit itu belum reda.
Sial

Senin, 12 November 2018

Hanya Jika Kita Yakin


Untuk siapapun yang tak mampu berucap, tak ingin bertanya dan tak bisa menjawab.


Selasa, 18 Juli 2017

DILEMA MAHASISWA UNTUK JADI PENGEJAR IPK ATAU AKTIVIS ORGANISASI (part 2/2)



Gambar dari Student Telkom University

Untuk dapat menentukan skala prioritas, kita mesti kenali dulu diri sendiri. Apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan kita. Seperti dikatakan banyak orang: tidak ada manusia bodoh, yang ada hanyalah manusia tanpa kemauan belajar.

Kenapa pada saat ujian, kita pasti pernah merasa jawaban yang ditulis sudah sempurna bahkan mungkin mirip dengan kunci jawaban, saking PD nya. Tapi ketika nilai diumumkan, kita sering mengalami hal yang akhirnya membuat kita bergumam “Nilai bukanlah segalanya. Nilai hanyalah angka. Keep calm, stay cool, it’s already tomorrow in couple hours”, sambil senyum sok tabah dan kepo menanyakan nilai orang lain, berharap ada kawan seperjuangan.

Maka, kita harus membenahi presepsi kita terhadap kata pintar. Pintar bukan hanya memiliki nilai yang tinggi, cakap berbicara, dan lain sebagainya. Pintar artinya kita menguasai suatu hal, apapun itu. Bahkan pencopet pun bisa kita bilang pintar, bukan? Ya, mereka pintar mengelabui mangsa dan menguasai jurus kecepatan tangan ala ninja konoha. Wih.

Nah, antara akademis dan organisasi, dimana kita bisa menjadi lebih “pintar”?

MEMILIH AKTIF DI ORGANISASI DEMI MENUTUPI KURANGNYA NILAI

Apalagi untuk mahasiswa yang salah jurusan. Mendalami mata kuliah yang sebenarnya tidak kita senangi itu adalah cobaan yang berat, kawan.

“Duh aku benar-benar gak suka sama semua mata kuliahnya, lebih baik aku tutupi kekurangan ini dengan aktif organisasi.”

Pernyataan tersebut harus dikoreksi secuil. Memang tidak bisa dipaksakan, tapi dengan kita memprioritaskan diri di organisasi lantas akademis diabaikan, bukan ditutupi namanya, tetapi kita menggali kekurangan itu jadi lebih dalam. Karena waktu akan habis untuk organisasi dan kita semakin tertinggal di akademis.

Biasanya porsi mahasiswa semacam ini adalah 10 : 90, nilai berbanding organisasi. Ditulis angka 10 di perbandingan nilai pun demi  menghargai usaha kita yang masih ingin hadir dan mendengarkan ceramah dosen, sekaligus usaha mengerjakan tugas yang dilakukan pas deadline.

Lalu harus bagaimana?

Kita ganti kalimatnya menjadi “Aku benar-benar harus belajar lebih keras dibanding teman-teman, dan juga, aku harus melengkapi kekurangan ini dengan aktif di organisasi.”

Bagaimana pun juga, nilai akan menjadi tiket untuk memasuki dunia kerja, atau setidaknya akan menjadi gambaran bagi orang lain untuk melihat kemampuan kita dalam bidang tersebut. Suka tidak suka, kita tetap harus mempelajari mata kuliah yang sudah ditentukan. Seperti kata Imam Syafi’i :

“Jika kamu tidak dapat menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan.”

Targetkan saja nilai minimal yang biasa digunakan dalam seleksi kerja. Misalnya, banyak perusahaan yang mensyaratkan fresh graduate dengan ipk minimal 3, ya sudah tidak usah memaksakan diri untuk bisa mencapai lebih dari angka 3. Karena, nilai minimal ini adalah hasil kerja maksimal kita, harus bangga!

Lalu, untuk melengkapi kekurangan tersebut, coba lah aktif di organisasi. Jika memungkinkan, kita bisa memilih beberapa organisasi, lalu memaksimalkan perkembangan soft skill disana.

Di organisasi kita akan dilatih untuk bisa berkomunikasi dengan baik, memecahkan masalah dalam suatu kondisi, dan mengembangkan kreatifitas. Itu semua termasuk hal-hal yang menunjang pencapaian menjadi THE FULL PACKAGE VERSION OF US. Kalau kita ada di tingkat minimal untuk nilai, maka kita harus ada di tingkat maksimal untuk soft skill ini.

Perbandingan yang disarankan adalah 40 : 60. Ditambah 30 poin untuk nilai dengan penambahan usaha mengikuti kegiatan belajar bersama, demi nilai UAS yang lebih baik. Atau pun keinginan lebih aktif bertanya di kelas.

Dan juga, dalam 40% waktu tersebut, semuanya harus dimanfaatkan dengan efektif dan sungguh-sungguh. Terkadang metode ini akan lebih terasa daripada berlama-lama belajar tapi tidak konsentrasi.

MEMILIKI KEMAMPUAN AKADEMIS LEBIH BAIK DARI BERORGANISASI

Untuk tipe mahasiswa seperti ini, bukan berarti kita harus 100% di akademis dengan dalih menutup kekurangan karena tidak bisa berorganisasi. Tapi lagi-lagi, seimbangkan.

Tidak usah menjadi aktivis yang ada di jajaran petinggi alias pejabat, cukup targetkan saja ikut berorganisasi sampai kita mampu menyuarakan gagasan depan orang banyak dengan lancar. Cukup memiliki banyak kenalan dan bergaul dengan sedikit-banyak orang.

Selain akan menambah wawasan, itu juga akan meningkatkan skill kita dalam bersosial. Walaupun memiliki kemampuan komunikasi yang rata-rata, tapi didukung dengan pengetahuan tinggi dan wawasan yang luas akan meningkatkan percaya diri kita untuk bisa berbicara di depan orang banyak.

Kita bisa memilih perbandingan nilai dan organisasi di 60 : 40. Semoga dengan angka 60% saja, nilai kita masih bisa mencapai maksimal dan kemampuan berorganisasi juga meningkat.

MEMILIKI KEMAMPUAN RATA-RATA DI AKADEMIS DAN ORGANISASI

Nah, tipe seperti ini baru bisa menerapkan porsi fifty-fifty. Tapi, memanage waktu dan menyeimbangkan kedua hal ini bukanlah soal yang gampang. Daripada mencari banyak tips “cara membagi waktu dengan baik” tapi tidak direalisasikan, lebih baik kita persiapkan di awal sebelum masuk ke dunia mahasiswa yang “sok sibuk” itu.

Persiapan yang dimaksud adalah kita pilih satu organisasi seperti himpunan mahasiswa, organisasi daerah atau unit kegiatan mahasiswa yang mendalami hal yang kita sukai. Hindari memilih terlalu banyak, karena itu akan membuat kita sulit untuk fokus. Selain itu, kontribusi di setiap organisasi tidak akan maksimal.

Kalau kita mampu bekerja dengan baik, bertanggung jawab, dapat diandalkan dan jujur, maka yakinlah kita akan mendapatkan banyak pengalaman karena teman-teman dapat mempercayakanmu untuk menyelesaikan beberapa tugas. Bahkan, bisa saja kamu akan dipercaya menjadi pemimpin.

Di bidang akademis pun kita harus mengikutinya dengan tepat. Ketika di dalam ruang kelas dan sedang dalam waktu pembelajaran, tidak usah memikirkan tugas di organisasi yang belum selesai, sama sekali. Apalagi, mengerjakan. Hal tersebut adalah kesalahan yang umum dilakukan oleh mahasiswa yang aktif organisasi, padahal cukup konsentrasi saja pada dosen yang bikin ngantuk itu, setelah waktunya habis baru lanjutkan kembali tugasnya.

Gimana? Udah bisa membayangkan kehidupan kuliahmu bagaimana? Lebih banyak membaca buku politik, ataupun jurnal penelitian terbaru tidak ada yang salah. We can be perfect in our own way.

Let’s try to be the good full package version of us.


Coming soon, cerita ala-ala dari aktivis himpunan, asisten dosen, juga dari para mahasiswi peraih IP 4.



DILEMA MAHASISWA UNTUK JADI PENGEJAR IPK ATAU AKTIVIS ORGANISASI (part 1/2)


Let’s try to be the good full package version of us.

Gambar dari Student Telkom University

Tulisan ini dibuat dengan niat untuk membantu mahasiswa baru, atau mahasiswa baru satu-dua tahun meluruskan kembali perihal maksud kita memasuki dunia kampus. Terutama catatan untuk diri sendiri, yang nyatanya nyaris menjadi mahasiswa sempurna. Sempurna ke-tidak berguna-annya. Naudzubillahi min dzalik L Just kidding, dude.

Sedikit cerita, setelah berpusing-pusing dengan banyak ujian masuk perguruan tinggi, ditolak ini-itu, akhirnya saya diterima di beberapa tempat dan berakhir di POLBAN, Politeknik Negeri Bandung aka Ex-Politeknik ITB yang sering dikira Polisi Bandung. Namun, bukan berarti kepusingan ini berakhir begitu saja. Selanjutnya, banyak pertanyaan yang muncul seperti :

“Wah beneran nih aku jadi mahasiswa? Rasanya belum siap, diri ini tak lebih dari anak SMA yang hobinya begadang nonton drama korea, dilanjut pagi-pagi nongkrongin Spongebob bareng temen kost-an, untuk kemudian terlambat masuk kelas.”

“Aku belum siap jadi mahasiswa yang harus memikirkan bangsa, ataupun mengikuti kakak-kakak yang pakai jas almamater, bawa toa dan beberapa banner demonstrasi di berita TV. Dede masih kecil, kak L.”

Selanjutnya aku browsing di gugel berbagai tips menjadi mahasiswa teladan, bersahaja, serta menganut kedisiplinan tinggi dalam berorganisasi. No, actually itu mah terlalu berlebihan. Berbagai artikel yang dicari kebanyakan tentang “IPK atau organisasi?”, “Kuliah sambil kerja”, begitu kurang lebih.

Kebanyakan yang aku baca adalah jawaban setengah-setengah yang berujung “semua tergantung pada kemauan Anda.” Well buat apa krasak-krusuk di gugel kalo ujungnya disuruh mikir sendiri.

Berikutnya adalah jawaban menarik, kita bisa bikin seimbang antara IPK dan organisasi asal bisa memanage waktu dengan baik. Akhirnya pilihan telah ditentukan! Aku ingin aktif di organisasi tetapi tidak berniat melalaikan nilai akademis. Memanage waktu mah gampang, hey! Tinggal bikin agenda, lalu jalankan, selesai.

Tapi teman-teman, semuanya tidak berjalan mulus seperti kulit mbak-mbak di iklan lotion dan sabun mandi. Melainkan seperti kulit buaya asli yang gak akan mulus walau pake treatment mahal punya Syahrini L.

Kuliah itu sangat berbeda dengan kehidupan SMA. Disini kita tidak dianjurkan untuk jadi umat “ikut-ikutan.” Karena setiap pilihan yang kita ambil akan berdampak pada kehidupan kuliah ke depannya.

Contohnya? Di dunia perkuliahan, entah itu organisasi, himpunan, ataupun UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) sering mengadakan acara-acara dan membuka open recruitmen untuk kepanitiaannya. Lalu, ceritanya kita mendaftar hanya karena ikut-ikutan teman.

Alhasil, kita terikat dengan banyak tugas dan juga tanggung jawab yang “mau tak mau” harus diprioritaskan demi suksesnya acara tersebut. Kita tidak bisa begitu saja menghilang, beralasan “setiap orang memiliki prioritas yang berbeda” atau alasan “saya memiliki banyak kegiatan lain”, “izin blablabla”, lantas lari dari tanggung jawab. Kan gawat kalo ditanya senior galak : “Buat apa daftar toh, mas?!”

Karena perilaku seperti itu akan menurunkan integritas kita di mata teman-teman yang lain. Singkatnya, kita akan merugikan banyak orang dan juga diri sendiri. Karena teman-teman tidak akan mempercayai kita lagi untuk mengemban sebuah tanggung jawab.

“JADI, BAGAIMANA CARANYA MENENTUKAN KEGIATAN YANG AKAN DIPRIORITASKAN?”

Daripada memberikan jawaban yang setengah-setengah, tulisan ini akan mengajak kamu berpikir bersama untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pertama, pikirkan dulu apa tujuan kita kuliah.

Apakah ingin cepat lulus lalu memiliki gelar dan pekerjaan? Ataukah untuk mendalami suatu bidang ilmu pengetahuan yang kita sukai? Atau karena terpaksa, daripada dijodohkan lalu jadi mamah muda?

Sebuah tulisan karya Faizur Rohmat di kompasiana menyebutkan, “Sudah terlalu jauh bila kita memikirkan cara meningkatkan kualitas bangsa sedangkan masa depan kita sendiri belum terarah dan tidak terkonsep dengan baik.”

Terlepas dari apapun basa-basi seperti “mencari ilmu”, atau “ingin jadi agent of change”, pasti setelah lulus kuliah kita ingin memiliki pekerjaan dan pendapatan sendiri. Kasarnya, ingin banyak uang begitu, kan?

“Jadi, kita cukup belajar di kelas aja nih? Biar IPK gede trus cepet kerja?”
Nah, ijazah saja tak cukup untuk mendapatkan pekerjaan! Apalagi bermodal sertifikat kepanitiaan saja, mana cukup.

Setelah membaca beberapa tulisan mengenai pekerjaan. Ada data yang menunjukkan bahwa perusahan di Indonesia masih sulit untuk menemukan mahasiswa yang “siap pakai”. Padahal ribuan mahasiswa lulus setiap tahun. Apa sih yang sebenarnya perusahaan cari? (sila cari artikelnya).

Daripada mengcopas beberapa data mengenai “kriteria fresh graduate yang dibutuhkan perusahaan” lalu membuat penjelasan yang kaku dan tak berujung, lebih baik kita santai sedikit sembari berpikir.

“Kalo aku memiliki sebuah perusahaan, pegawai macam apa yang aku inginkan agar perusahaan ini makin menguntungkan?”

Bayangkan kita adalah pemilik sebuah perusahaan besar!

Tentunya bukan pegawai yang memiliki nilai tinggi, tapi tergagap berbicara di hadapan orang banyak. Paham berbagai teori, tapi tidak mampu menyuarakan gagasan sendiri. Bukan juga pegawai yang hobinya berbicara tapi tidak ada isinya. Apalagi pegawai yang berapi-api dalam berpendapat, tetapi tidak memiliki landasan teori yang akurat.
Jika kita punya perusahaan, pastilah kita ingin punya pegawai yang FULL PACKAGE. Berpengetahuan tinggi, memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, tekun, dan memiliki etos kerja yang tinggi.

Sudah kebayang, kan? Harus seperti apa kita setelah lulus nanti?

“Ah, tapi aku gak mau jadi pegawai, aku maunya jadi founder, jadi atasan gitu deh.”

Kata siapa para pengusaha sukses di luar sana bisa mencapai tujuannya dengan mudah? Untuk jadi pegawai saja kita mesti full package, segala bisa. Apalagi jadi bos, lebih banyak lagi yang harus kita kuasai.

Bagaimana mempengaruhi orang lain, memecahkan masalah dalam keadaan penuh tekanan, memiliki banyak relasi. Butuh lebih dari sekedar pengetahuan tinggi, juga organisasi untuk jadi bos. Kita harus punya banyak pengalaman dan yang terpenting, kerja keras.

Intinya, kita harus bisa menyeimbangkan antara bidang akademis sebagai bekal pengetahuan dan “gerbang” masuk tahap seleksi kerja berikutnya, juga organisasi atau semacamnya sebagai modal untuk memiliki pengalaman serta meningkatkan soft skill kita. Walaupun seperti yang sudah tadi dikatakan, ini tidak akan berjalan mulus tanpa usaha.

“Maksudnya seimbang itu 50:50?”

Nah, langkah selanjutnya mengatur porsi dari prioritas. Kita memang dituntut memiliki pengetahuan yang tinggi didukung dengan berbagai soft skill. Tapi, ingat bahwa manusia diciptakan berbeda-beda, bukan? Jadi bagaimana menentukan porsi prioritas ini supaya kita bisa jadi lulusan yang ideal?

Selalu ada jalan untuk membuat kulit buaya ini jadi lebih indah, kawan.

Jumat, 23 September 2016

Diam


Tersimpuh dirantai suram malam
Kau tenggelamkan aku dalam
ketidakpedulian

Terisak merintih dalam pesakitan
Teriak memanggil tuai harapan
Nelangsa dalam kejam genggaman
Kupeluk teguh hati, bertahan

Aku terdiam

Senin, 25 Juli 2016

Awkarin dan 473.040.000 Detikmu

Awkarin kini semakin menggila, siapa yang tak kenal dengan gadis yang katanya peraih nilai UN tertinggi se-provinsi ini? Banyak yang menyimpulkan bahwa pemberitaan tentang Awkarin, gadis cantik dan kekinian yang sibuk dalam kisah asmaranya, adalah pemberitaan yang tidak penting. Tapi siapa tahu?

Memulai Lagi, Balikan Lagi.

Hidup selalu mengalami lika-liku, tak jarang tersandung kerikil hingga batu besar. Terkadang terasa lancar berjalan tak sadar bahwa langkah tak menjauh. Lalu, bagaimana memulai hidup yang lebih berguna? Tinggalkan masa lalu apalagi mantan, jika punya. Mungkin langkah ini perlu kita ingat:

1.    Jatuhkan diri sejatuh-jatuhnya

Kamis, 21 Juli 2016

Teks pidato : Demokrasi oleh Pemuda untuk Indonesia

Tema : Pentingnya Pendidikan Demokrasi bagi Pemuda

Assalamualaikum wr wb
            Puji dan syukur mari kita panjatkan pada Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayahnya kita semua dapat berkumpul di tempat yang insya Allah diberkahi ini, aamiin. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan pada Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat, serta pengikutnya hingga akhir jaman.
Hadirin yang saya hormati,
Demokrasi sangat menjunjung tinggi etika dan hukum serta kedewasaan bersikap  dalam mengelola kebebasan.
Dalam dunia politik, rakyat dapat secara langsung memilih pemimpinnya, yakni presiden, gubernur, dan bupati/wali kota. Rakyat dapat menyampaikan aspirasinya dengan berbagai cara, baik melalui pers maupun unjuk rasa di depan umum.

APA YANG BENAR TENTANG MAJELIS TINGGI HIMPUNAN? #2

Lembaga Legislatif Mahasiswa: Majelis Tinggi Himpunan


Dalam konsep demokrasi, badan legislatif identik dengan badan perwakilan. Maka, lembaga legislatif mahasiswa adalah perwakilan dari para mahasiswa (konstituen) yang mengemban amanat untuk menampung dan menyalurkan segala aspirasi, kritik dan saran untuk menjadi suatu kebijakan dan dapat direalisasikan oleh eksekutor. Sebagaimana DPR merupakan wakil rakyat, yang mewakili suara rakyat dalam mengatur jalan hidup bernegara, yang telah dijelaskan sebelumnya.

APA YANG BENAR TENTANG MAJELIS TINGGI HIMPUNAN? #1

Lembaga Legislatif Mahasiswa: Majelis Tinggi Himpunan

Majelis tinggi himpunan –selanjutnya akan disebut MTH tuh kerjanya apa sih? Kok gabut ya? Yang capek bikin acara selalu badan eksekutifnya...

Saat ini Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi demokrasi. Dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat, begitu kata Abraham Lincoln. Demokrasi membuat rakyat memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidup mereka, dibawah kendali pemerintah tentunya. Kebebasan dan kesetaraan yang dijanjikan demokrasi menuntut adanya pemisahan kekuasaan, ditujukan agar tidak ada kekuasaan yang absolut. Sehingga sistem trias politica digunakan di Indonesia dengan adanya lembaga eksekutif, yudikatif, dan legislatif. 

Kamis, 19 Mei 2016

Mimpi yang Tidak Tidur

Mataku menerawang jauh kebawah sana, Subhanallah… begitu menakjubkan, apalagi disampingku duduk seorang bidadari. Bidadari syurga, menurutku. Meski umurnya sudah lebih dari separuh abad, tapi semangatku bergejolak ketika melihat pancaran keikhlasan dari matanya, bibirnya tak berhenti mengucapkan sesuatu yang sepertinya diucapkan untuk ilah kami.

Surat : Aku Tak Ingin Datang lalu Pulang Terabaikan


Hai, semangat pagi!
Memang itu bukan salam pembukaan terbaik tapi surat ini kutulis sebaik mungkin seupayaku.

Hei, akhir-akhir ini –kurasa sejak dulu–  aku selalu jadi bahan pembicaraan, terutama dalam kalimat nasihat dan pepatah yang sudah klise, kuno. Kau tahu kan? Kalimat yang sudah beribu kali diucapkan, didengar, bahkan diabaikan. Tapi yang kulihat, hanya sedikit orang yang benar-benar mengenalku.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management
Sumber : http://kolombloggratis.blogspot.com/2011/03/tips-cara-supaya-artikel-blog-tidak.html#ixzz2bicjTJxj